Cerbung
Crimson Butterfly : The Fatal Frame -PROLOGY-
Crimson Butterfly : The Fatal Frame -PROLOGY-

Crimson Butterfly : The Fatal Frame -PROLOGY-



Hai… Kami tau kalau kalian ingin mengunduh dan menonton kelanjutan dari Proyek kami, tapi dikarenakan staff yang berhubungan project tersebut pada sibuk, maka project tersebut mengalami pending .. 🙁

Nah sambil menunggu project yang kalian tunggu rilis kembali, mari membaca kisah Fatal Frame 2 : Crimson Butterfly dalam gaya Novel 😀 beberapa dari kalian mungkin sudah ada yang memainkan game ini yah ..

sebenernya bukan aku yg nulis sih, tpi aku udah dapat izin dari Author asli ny 😀


_________________________________________________________________________

Crimson Butterflies; The Fatal Frame


All characters belong to Tecmo.inc as this is only one of fan fiction from Playstation 2, X-box, and Nintendo Wii Game. With this disclaimer, author owe nothing with Tecmo-Koei.inc
Mengisahkan tentang event yang terjadi pada game Fatal Frame 2: Crimson Butterfly. Ditulis kembali dengan gaya novel dan alur cerita yang cukup detail sehingga dapat dinikmati bahkan tanpa harus bermain gamenya. Tentu saja jika reader pernah memainkan gamenya akan memudahkan untuk mengikuti kisah ini. Well… enjoy the story.

Genre : Adventure, Horror, Tragedy, Fantasy.

______________________________________________________________________________

Hour 1 : Prolog

“Didn’t we always promise each other…

That we’d always be together….?”

~ Mayu’s Quote to Mio.

Prefektur Kanagawa, Jepang.

26 Februari 1988; 10:00 AM

“Mayu…”

“Mayu…”

“Mayu… maaf… maafkan aku…”

“Maafkan aku…”

Mio teringat akan masa lalunya yang pahit, dia begitu terbebani yang menyebabkannya menghela napas dengan berat. Dua tangan yang halus mendadak saja memegang bahunya dari belakang, membuat Mio menengadah ke atas. Senyum kakaknya lah yang menyapanya.

“Kau ingat? Dulu kita selalu bermain di sini,” tanya Amakura Mayu sembari tersenyum sementara angin musim semi bertiup lembut mengacaukan rambutnya.

“Mio, kau masih ingat kan?”

“Tentu…” jawab Mio kaku yang tampak masih kaget karena Mayu yang mendadak menghentikan lamunannya. Sadar akan hal itu, Mayu duduk di sampingnya dengan hati-hati. Saling membelakangi, keduanya duduk berdampingan dan mengembara dalam pikiran mereka masing-masing.

Kembar yang benar-benar identik, saat pertama melihat, kedua gadis tersebut tampak seperti pinang dibelah dua. Namun jika mengenal lebih jauh, perbedaan di antara keduanya akan semakin jelas.

Secara urutan, Mio adalah anak kedua yang lahir setelah Mayu. Seorang yang aktif dan sedikit tomboy. Seperti kakaknya, wajah mereka benar-benar mirip, ceria, dan seorang yang aktif. Mayu sebaliknya adalah gadis yang pasif dan pemalu, memiliki kesehatan yang rentan karena kecelakaan yang dialaminya saat masih kecil. Mayu jarang sekali beraktivitas di luar rumah, menyebabkannya tidak begitu memiliki banyak teman, kulitnya pun sangat putih jika tidak mau dibilang pucat. Fisik Mayu sangat lemah dan hal ini menyebabkan Mio selalu mengkhawatirkannya setiap saat.

Saat itu adalah hari yang cerah dengan udara yang hangat di musim semi. Kedua gadis itu duduk di tepi sungai kecil, berpakaian dengan tatanan yang cocok satu sama lain. Dapat dibilang mirip namun juga berbeda di saat yang bersamaan, Mayu memakai sun dress yang simpel namun menarik hati dengan kombinasi warna merah, kontras dengan pakaian dalaman yang gelap namun secara keseluruhan terlihat pas dan indah. Sementara Mio memakai rok putih dengan stocking hitam menyambung dengan blouse berwarna sama seperti kakaknya.

Menatap pemandangan hutan yang begitu indah, Mayu menghela napas.

“Terpikir olehku… tempat kenangan masa kecil kita ini akan segera hilang,” katanya dengan nada sedih. Yang dimaksud Mayu tidak lain adalah mengenai rencana pemerintah yang akan menenggelamkan lembah tempat mereka berada sekarang, rencana untuk menjadikannya sebagai bendungan buatan demi kepentingan pembangunan di sana.

Menanggapi komentar Mayu, Mio mengangguk dalam diam sebelum menoleh padanya.

“Kakimu bagaimana? Masih sakit kah?”

Mayu tersenyum kecil, Mio selalu protektif terhadapnya. Tentu saja yang dimaksudnya adalah luka di lutut kaki kanan Mayu yang terbalut rapi oleh perban putih tebal.

“Sedikit sakit, tapi tidak apa-apa kok,” jawab Mayu terburu-buru. Dia tahu kalau Mio merasa kesal, kembali ke tempat bermain masa kecil mereka terlalu banyak membawa kenangan buruk bagi saudaranya itu.

“Mio…” kata Mayu lembut, berniat menawarkan sedikit penghiburan pada adik kembarnya yang masih tampak sedih.

“Ya ?” balas Mio dengan nada murung.

Mayu terdiam beberapa saat, bahkan setelah tujuh tahun berlalu, Mayu sadar kalau Mio masih merasa bersalah dan belum mampu memaafkan dirinya sendiri. Memaafkan dirinya dari sebuah kesalahan yang pernah dilakukannya, yang dianggapnya sebagai dosa seumur hidup.

“T-tidak apa-apa…” jawab Mayu akhirnya, berusaha tak ingin lagi mengungkit-ungkit kenangan pahit yang mereka simpan dengan rapat selama ini. Sayangnya keputusan Mayu sudah terlambat saat pikiran Mio kembali mengembara ke masa lalu di mana matahari sore mulai tenggelam meninggalkan langit kala itu.

Peristiwa itu terjadi tujuh tahun yang lalu. Mio memanggil-manggil Mayu dengan suara yang bergetar ketakutan.

“Saat itu aku benar benar bodoh…” pikir Mio dalam hatinya.

Suara gemerisik dedaunan terdengar sangat jelas, saat itu sudah sore dan matahari sudah mulai menghilang. Dua gadis kecil sedang berlari di tepi jurang kecil yang cukup terjal dan dalam. Mio ingin pulang secepat mungkin karena hari itu hari sabtu, hari dimana ibu mereka selalu membuat masakan yang lezat untuk makan malam mereka.

“Cepaaat…! Nanti kutinggal kalau kakak larinya lamban begitu,” ejek Mio sementara Mayu dengan susah payah mengejar di belakangnya.

“Mio… tunggu…!” seru Mayu memohon.

“Ayo kak, cepat…” balas Mio lagi.

“Tunggu! Jangan tinggalkan aku!” tangis Mayu sebelum kakinya menginjak batu yang licin di tepi jurang, suara terpeleset diikuti teriakan menyakitkan segera terdengar. Mio yang kaget segera berbalik dan yang dilihatnya hanyalah debu yang beterbangan, sosok kakaknya entah hilang kemana.

Dengan cepat, Mio berlari mendekati tempat dimana seharusnya Mayu berada.

“Mayu? Mayu…!”

Perasaan bersalah karena kejadian itu kembali menusuk Mio dengan sangat cepat. Dia segera tersadar dari lamunannya. Tatapannya sedih, dia bahkan belum berani memandang kakaknya.

“Mayu… mengenai waktu itu…” katanya pelan namun tidak terselesaikan.

“Mayu?” panggilnya bingung setelah sadar kalau sedari tadi dia sudah duduk sendiri tanpa Mayu di sampingnya. Mio segera berdiri dan melihat kesana-kemari berusaha mencari sosok kakaknya. Di kejauhan sana, Mayu sedang berdiri menatap ke arah hutan yang gelap. Seekor kupu-kupu terbang dengan elok di depannya. Benar-benar binatang yang aneh mengingat baru kali ini Mio melihat kupu-kupu dengan sayap berwarna merah darah bersinar terang seperti itu. Kupu-kupu itu terbang memutar sebelum menjauh dari Mayu dan masuk ke arah hutan, seolah-olah mengajak Mayu untuk mengikutinya.

Mio terpaku dalam diam sebelum menyadari kalau Mayu mulai berlari mengikuti kupu-kupu itu.

“Huh?” Mio mengedipkan matanya dengan tidak percaya, bukan kah Mayu sudah tak bisa lari semenjak insiden waktu itu? Rasanya aneh melihat Mayu berlari dengan memaksakan kakinya tanpa merasa kesakitan.

“Mayu! Kau mau kemana?” tanya Mio khawatir. Cemas kalau kakaknya akan terluka.

Mio semakin merasa aneh saat menyadari kalau Mayu tidak menjawab bahkan terkesan tidak peduli. Tanpa pikir panjang, Mio segera menyusul mengejar.

Mayu bergerak semakin jauh, menyeret kaki kanannya yang terluka dengan kasar seperti orang yang kemasukan sesuatu. Di depannya masih melayang kupu-kupu merah yang aneh tadi, memimpinnya untuk melangkah semakin dalam ke hutan yang kian lebat sementara Mio masih mengejar dan memanggil dari belakang dengan perasaan semakin tak menentu.

“Mayu! Tunggu!” panggil Mio lagi seiring dengan Mayu yang semakin hilang dari pandangan karena dihalangi oleh pepohonan.

Sembari terus berlari, Mio menyadari kalau ia melewati sebuah batu pahat pendek berbentuk batu nisan dengan ukiran sepasang gadis yang salah satunya tanpa kepala. Namun belum sempat berpikir lebih jauh, sebuah keanehan terjadi.

Mendadak saja hembusan angin yang begitu dingin berhembus kencang, suaranya mendengung di telinga sembari langit tiba-tiba saja menjadi gelap seperti pada tengah malam. Pohon-pohon yang sebelumnya hijau dan subur kini menjadi gelap dan terlihat menyeramkan, seluruh hutan seolah-olah memudar warnanya. Semuanya tampak berputar-putar dan memusingkan Mio. Di dalam kebingungannya, Mio kembali dikejutkan oleh sosok kupu-kupu merah tadi beserta Mayu kakaknya yang masih berlari di depan. Sadar kalau ia harus segera menyusul sang kakak, Mio tanpa mempedulikan keanehan yang baru saja terjadi kembali mengejar Mayu.

“Tunggu! Kak… berhenti!” seru Mio untuk kesekian kalinya. Mio akhirnya berhasil menyusul Mayu, berusaha menangkap pundaknya. Anehnya, Mayu seperti berubah menjadi orang lain, memakai kimono putih dan terasa hawa yang dingin sekali. Saat Mio menyentuhnya, seperti ada getaran listrik yang merambat melalui tangannya. Secepat kedipan mata, Mio mendapatkan sebuah pengelihatan; wajah Mayu yang mati menggenaskan dengan dua tangan entah milik siapa sedang mencekik leher kakaknya itu dengan kuat.

Pengelihatan itu hilang secepat ia datang dan Mio lagi-lagi sudah berdiri di sebuah jalan setapak di tengah hutan. Melihat Mayu kembali menghilang, Mio semakin panik.

“Mayu!” tangis Mio sembari melirik kesana kemari dan mencari sang kakak seperti orang yang kesetanan. Menyadari kalau jalan setapak tempat dia berada itu terus menyambung menuju sebuah puncak bukit di depan, Mio segera berlari mengikutinya.

Langit masih tampak gelap dengan bulan purnama yang bersinar pucat begitu terangnya. Sungguh ironis mengingat beberapa menit yang lalu matahari masih bersinar cerah. Suara hembusan angin semakin membuat suasana hutan kian menyeramkan, Mio bisa mendengar beberapa serangga di hutan yang berbunyi mengerikan seolah-olah sedang mengancam agar Mio tidak berjalan lebih jauh.

“Mayuuuu!” panggil Mio dengan suara bergetar, kedua matanya masih terus mencari sembari dia terus berjalan. Mio semakin ketakutan terutama sekali karena dia belum menemukan satupun tanda-tanda keberadaan sang kakak.

Jalan mulai menanjak dan tampak beberapa obor api yang menyala di atas, memberikan cahaya tambahan bagi Mio untuk mencari Mayu. Harapan baru mulai mengisi hatinya walaupun terbukti tidak mampu bertahan lama saat Mio tiba-tiba mendengar suara nyanyian entah dari mana. Suara nyanyian itu sungguh menakutkan, persis seperti nyanyian yang diperdengarkan saat acara pemakaman.

“Mayuuuuuu!” panggil Mio tanpa letih begitu dia sampai di tempat yang tampak seperti puncak bukit.

Mio berdiri dalam diam setelah menyadari adanya suara sayup-sayup orang menangis entah dari mana. Mengira itu suara kakaknya, Mio mempertajam pendengarannya dan mencari asal dari suara tangisan tersebut.

“Maafkan aku… maafkan aku…”terdengar suara itu begitu parau dan penuh penyesalan, suaranya memang seperti Mayu.

Mio juga menyadari sebuah gerbang kayu khas jepang yang mirip dengan yang ada di kuil, walaupun yang dilihat Mio ini terlihat sudah runtuh setengahnya. Saat melewatinya, Mio menangkap sosok seorang gadis tak jauh dari sana. Satu hal yang pasti kalau gadis itu bukan Mayu. Sosok gadis itu memakai kimono putih dan tampak sedang mengusap wajahnya; gadis itu sedang menangis sebelum menghilang tepat di depan mata Mio.

Jantung Mio berdetak kencang, entah siapa sosok itu, tapi satu hal yang ia yakini kalau yang dilihatnya tadi itu bukan manusia.

“Hantu kah?” Mio menggelengkan kepalanya dan tampak berusaha menenangkan diri. Daripada berpikir yang bukan-bukan, akan lebih baik kalau dia segera mencari Mayu apalagi tempat di mana mereka berada sekarang jelas bukan tempat yang aman. Mio akhirnya meneruskan pencarian, dia menaiki tangga batu tidak jauh dari gerbang kayu sebelumnya dan tiba di jalan setapak yang lebih besar, obor-obor api dengan beberapa kayu bakar menyala dengan terang di kedua sisi, obor itu berbentuk piring kecil dengan beberapa tiang penyangga yang cukup tinggi.

Di tengah jalan, tampak beberapa batu besar yang terhubung satu sama lain dengan tali tambang zaman dulu, terlihat berat dengan sisi – sisinya terikat lagi oleh kertas-kertas aneh seperti mantera. Tepat di tengah batu ada tempat pemujaan berbentuk batu nisan besar hitam yang cukup membuat Mio merinding.

“Ini… di mana…?” Ucap Mio berbicara sendiri. Seekor kupu-kupu merah mendadak saja kembali melintas di depan Mio, mengepakkan sayapnya dengan indah sebelum menjauh ke arah yang tampak seperti jurang terjal. Mio secara reflek mengikutinya dan dengan mudah dia akhirnya menemukan Mayu; berdiri tepat di tepi jurang sembari menatap ke arah jauh di sana membelakangi Mio.

“Mayu!” panggil Mio khawatir.

Mayu berbalik dengan perlahan, udara di sekitarnya berpencar, berkelap kelip layaknya bunga api kecil sebelum beberapa kupu-kupu merah muncul entah dari mana dan menghilang beberapa detik setelahnya seolah-olah ditelan kembali oleh kegelapan malam.

Mio merinding, namun di satu sisi ia senang karena Mayu tampak baik-baik saja.

Merasa lebih tenang sekarang, Mio memeluk Mayu yang juga menerima pelukannya dalam diam.

“Eh?” Kata Mayu tiba-tiba, tampak bingung sendiri sebelum melirik Mio yang masih memeluknya erat.

“Kau tidak apa-apa kan?” tanya Mio sembari memeriksa kalau-kalau kakaknya itu terluka saat dia berlari tadi.

“Errrrh-iya, aku baik-baik saja…” jawab Mayu sembari mengangguk pelan, terlihat sekali di wajahnya kalau dia masih kebingungan dengan apa yang baru saja terjadi.

Setelah yakin Mayu baik-baik saja, Mio mulai memeriksa daerah di sekitarnya sampai Mayu menunjuk ke bawah jurang yang cukup dalam. Di bawah, tampak sebuah desa yang sederhana dengan kabut tebal menutupi. Mio menyadari kalau itu bukan desa biasa. Sembari menyipitkan mata, Mio menangkap kesan yang tidak menyenangkan terhadap perkampungan itu, karena gelap ditambah lagi kabut di mana-mana membuat desa itu terlihat angker dan mengerikan.

“Desa yang hilang…” ucap Mayu dingin.

“Apa?” balas Mio bingung sembari menoleh ke arah kakaknya.

“Aku pernah mendengarnya…” lanjut Mayu. “Tentang sebuah desa yang hilang secara misterius pada malam sebuah festival. Orang-orang yang tersesat di hutan akan terperangkap di desa itu. Mungkinkah… ini tempatnya?”

Mio dan Mayu saling menatap dalam diam, sadar kalau bisa jadi mereka baru saja menginjakkan kaki mereka di tempat yang tidak seharusnya dikunjungi oleh manusia. Tempat yang mungkin akan mengubah takdir mereka selamanya.

End of Hour 1.

Shall continue on the next one; The Lost Village

- Tekan Download untuk memunculkan link
- Gunakan Winrar/Winzip unntuk ekstrak File! Download Disini
- Subtitle Tidak Muncul? bisa menggunakan MX PLAYER atau VLC Media Player
- Apabila Google Drive limit, gunakan link alternatif yang awet seperti Googleshare
- Apabila link mati, harap lapor di komentar.

Keyword:
Crimson Butterfly : The Fatal Frame -PROLOGY-, download Crimson Butterfly : The Fatal Frame -PROLOGY-, download anime Crimson Butterfly : The Fatal Frame -PROLOGY-, anime Crimson Butterfly : The Fatal Frame -PROLOGY-, download toku batch mp4 , mkv , 3gp sub indo , download tokusatsu sub indo , download marvel sub indo Crimson Butterfly : The Fatal Frame -PROLOGY-

Postingan Lainnya :

Buka Komentar
© Wizardsubs | Fansub Subtitle Indonesia